August 16, 2005

Saksofonis Artifisial!

Image hosted by Photobucket.com

If you watching tv recently, kalo diperhatiin si Glenn Fredly sekarang mulai menyertakan pemain saxophone buat ngisi lagu-lagunya yang udah ada. At first, gwe angkat jempol buat dia karena jarang banget (ato hampir ngga ada) musisi Indonesia yang kepikiran masukin unsur saxophone di karya musikal mereka, plus gwe emang dah lama seneng banget ama alat musik ini.

Gwe rasa, kayaknya si Glenn mulai terinspirasi dengan saxophone setelah dia beberapa waktu lalu membuahkan satu album hasil kolaborasi dia dengan Kenny G. Which i believe became the center of his inspiration.

Untuk hasil kolaborasi dengan musisi kelas dunia macem Kenny G album ini biasa aja. Flat. Macem papan seterikaan. Ngga special. Gwe emang ngga bisa berharap banyak sama saxophonist jazz yang di black list dari komunitas yang membesarkannya karena dianggap kartu mati disana, bukan karena komersialisme tiupan, tapi karena kematian eksplorasi bermusiknya. Romantisme tipikal Kenny G dengan tiupan-tiupan panjang dan ritmenya yang naik turun bak jalan bergelombang yang seksi :p, berasa cocok dipaduin ama lagunya Glenn yang rata-rata melankolis.

I used to like Glenn, i do. Waktu jamannya dia nyanyi ‘Cinta Putih’, bahkan sampai lagunya dia 2 taon lalu ‘Januari’ masih kedenger enak di telinga gwe. Menurut gwe Glenn beda dengan artis-artis plain lain dalam menerjemahkan inspirasi ke dalam lirik, especially tema-tema cinta which is became his platform. Dia bisa menuangkan ide dengan manis, lembut dan ngga norak, sehingga tercipta kedekatan situasi antara lagunya dia dengan moment yang kita punya hehe. Liriknya dia gwe rasa punya kekuatan untuk menghidupkan kembali cerita yang telah lalu (tsah.. apa coba).

Gwe ngga bilang sekarang lagunya Glenn udah ngga enak lagi kayak dulu, setelah dia break up ama Nola pun yang katanya banyak orang bilang kiblat liriknya berubah drastis jadi lebih banyak nyeritain tentang kekecewaan, gwe masih bisa bilang Glenn tetep bagus. Bahkan gwe sempet kagum waktu dia perform live di Lepas Malam Transtv sebulanan yang lalu dengan saxophone playernya. Kalo ngga salah pas bintang tamunya si Luna Maya waktu mau promo ‘Cinta Silver’. Lagu-lagunya Glenn kedengeran lebih indah dan hidup pas dipaduin sama lengkingan kasar saxophone alto waktu itu, musikalitasnya drastis berasa lebih kaya, tereksplorasi luas dan bernyawa. Gwe udah punya harapan besar karyanya dia mendatang akan lebih berwarna dengan hadirnya saxophone di dalamnya. Lebih lagi, dengan nama besar Glenn gwe berharap alat musik ini akan cepat akrab dikenal oleh banyak orang, bukan hanya dalam genre jazz, tempat dimana dia lahir. Sehingga apresiasi masyarakat terhadap musik bisa lebih variatif dan teredukasi :p.

Tapi kok setelah gwe amatin setelah life performance itu, lama-lama saxophonistnya Glenn kok jadi maksa ya?. I mean, saxophone by nature is a heart instrument. It’s sound, it’s rhythm, it’s color, and each and every little part of it. A saxophonist, play it from their soulful heart so it creates view, ambience, emotions, passions, and live the magical wonder of the song.

Sedang saxophonistnya si Glenn maen masukin aja tiupannya ke lagu, semena disamain ama lead nada-nadanya. Tada! Doesn’t need a genius to guess it, suara yang keluar dari corong metal itu cuman jadi lengkingan-lengkingan tanpa makna, mati improvisasi, komersial, kedenger murahan dan tak dapat diinterpretasi.

Gwe ngga berharap aransemen Glenn dan saxophonistnya smooth dan sejujur Jeff Kashiwa, catchy dan kosmopolis seperti Richard Elliot, selegendaris karakter tiupan David Sanborn, atau Dave Koz dengan pelukan hangat nadanya. No, at all. Gwe cuman punya harapan besar dia akhirnya, nanti, dapat menari dalam imajinasi musikal tanpa batas, lepas dalam impresi arti dan menemukan tiupan jiwanya.Semoga.

Untuk sekarang, setiap Glenn nyanyi, dan si Saxophonist kucrit itu mulai niup ‘reed’nya. Gwe cuman bisa teriak (meminjam kata-kata mbak
ica) : “Artifisial!!!”.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home