Boong Yuk!
Ada satu pepatah bilang “katakanlah kejujuran sepahit apapun rasanya, hal itu lebih baik daripada sebuah kebohongan”.Memang, dalam perjalanan hidup ada saat dimana kita mengatakan sesuatu yang berlainan dengan kejadian yang sebenarnya, disamping juga banyak alasan yang menyebabkan kita melakukan perbuatan tersebut.
Sebagian besar orang juga berpendapat bahwa sebesar apapun konsekuensi yang akan diterima jika mengatakan kejujuran, dengan akibat paling buruk tetap jauh lebih baik jika dibandingkan dengan menyimpan sebuah kebohongan, apapun itu alasannya.
Well then...talking is cheap, karena jelas dunia punya kemampuan untuk menghadirkan kompleksitas yang bahkan tak seorang pun pernah terlintas untuk memikirkannya.
Let’s come up with something. Well, ngga perlu sesuatu yang besar. Telling unwanted pregnancy to a parents, or make a public statement that you’re a gay is obviously too big for something. Alasan kita untuk berbohong kadang bukan karena besarnya suatu masalah yang terjadi.
Sometimes, malah hal yang cemen dan abstrak yang malah bikin kita bohong berulang kali, dan ngerasa itu akan lebih baik dilakukan daripada harus mengatakan kejujuran, meskipun gwe tetep menjunjung tinggi kejujuran sebagai nilai baik yang patut untuk dijunjung tinggi dan dijaga.
Tetapi nilai baik seperti kejujuran sebagai sebuah fundamental teoritis konkrit sekalipun, kadang jadi eksentrik (kalo tidak boleh dibilang menyimpang) jika sudah diaplikasikan dalam kehidupan, karena menyesuaikan dan satu waktu bergantian disesuaikan oleh praktisinya :p.
Aku ngerasa ada beberapa orang di dunia ini yang memang sebaiknya dibohongin dalam hal-hal tertentu yang selayaknya mereka tidak perlu mengetahui kejadian yang sebenarnya. Karena jika mereka tahu, malahan akan menimbulkan masalah yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Seperti mama, yang sering irrasional, emosional dan bahkan dalam banyak press releasenya sering kontradiktif dengan pelaksanaan di lapangan :D. Beliau yang sangat saya hormati dan sayangi ini unfortunately adalah stressor sejati yang tak terelakkan *lol, sigh*
Beliau sepertinya lebih senang mendengar “mau bimbingan skripsi dulu ke kampus” daripada “giving speech di seminar broadcast buat announcer baru”, karena beliau pasti akan bilang “belom kelar kok ngurusin yang laen, apa untungnya sih, !@#$%^ bla..bla..”. Dan jika perdamaian dunia ingin terus ditegakkan, sebaiknya argumen tersebut didiamkan saja.
Yey mom, bagi ilmu buat orang lain penting lage.
Atau “Ke warnet bentar, mau download bahan research” daripada “Mau pergi ke si A nih, bantuin benerin komputernya yang ngadat. Kesian dia ngga bisa nyelesein kerjaannya”. Karena beliau juga akan bilang “tenaga kok dibuang-buang gitu sih, ngerjain kayak gitu tuh bayarannya mahal, mau aja kamu dimanfaatin”
Hello, did i miss something here?, he’s my friend since forever. Dimanfaatin? Ewww... nobody abusing me, no one rape me, it’s call a handful help kale. And don’t you remember mom? helping others is one of my greatest joy.
Dan begitulah, banyak hal dari mama yang berlawanan dengan kata hati. Dengan sesuatu yang menurutku baik dan semestinya bisa aku lakukan dengan tenang tanpa harus berbuat bohong. Hal-hal cemen yang justru aku rasa dapat memberikan makna besar dalam hidup dan memperkaya nurani.
Hey, there’s something ahead... boong lagi ngga ya? :p.Hehh... i'm sucha bad son :(.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home